in

Penjelasan Sains Mengapa Kita Tertawa di Atas Penderitaan Orang Lain

tertawa

Tak bisa dimungkiri terkadang kita senang ketika ada orang lain susah. Memang ada rasa empati ataupun simpati terhadap mereka yang terkena sial. Namun seringkali ada rasa di dalam hati yang lega ataupun justru senang ketika orang lain merasa susah.

Di Indonesia hal ini memiliki ungkapan yakni menari di atas penderitaan orang lain. Hal inipun wajar dialami manusia, bahkan telah masuk ranah sains. Dalam ilmu pengetahuan, fenomena ini disebut schadenfreude. Istilah ini merupakan serapan dari bahasa Jerman: Schaden berarti membahayakan dan Freude berarti kesenangan.

“Jika seseorang menikmati ketidakberuntungan orang lain, berarti ada sesuatu dalam ketidakberuntungan tersebut yang baik bagi dirinya,” ungkap Wilco W. van Dijk, Profesor Psikologi di Leiden University Belanda.

Schadenfreude sudah diteliti oleh para ilmuwan selama lebih dari dua dekade, dan merupakan ranah baru dari Psikologi dibanding ranah lainnya. Meski demikian sudah banyak studi yang meneliti fenomena.

Melansir Medical Daily, studi yang dihelat ilmuwan dari Ursinus College di Pennsylvania AS, menyebut bahwa kecemburuan adalah salah satu pelatuk dari munculnya perasaan schadenfreude.

“Ketika Anda depresi, dan Anda merasa tidak mampu, kesuksesan orang lain jadi sulit untuk dilihat karena kita akan membandingkannya dengan diri kita dan kita merasa buruk,” ungkap Catherine Chambliss, ilmuwan psikologi dan neurosains di Ursinus College.

Pembahasan soal schadenfreude sendiri makin diperkuat oleh studi yang dihelat profesor psikologi dari University of Haifa yakni Simone G. Shamay-Tsoory. Dalam studinya, anak umur dua tahun pun terdeteksi mengalami schadenfreude ketika sesuatu yang tidak adil menimpanya. Meski dipercaya bahwa emosi anak belum berkembang sempurna hingga umur tujuh tahun, namun terbukti kalau anak umur dua tahun pun akan tertawa di atas penderitaan orang lain.

Cenderung Psikopat?

Tertawa

Namun dalam studi lainnya, perasaan schadenfreude dianggap dekat dengan kecenderungan sifat psikopat. Studi yang dihelat ilmuwan dari Emory University ini melihat kesamaan karakteristik schadenfreude dan psikopat.

“Mereka yang merasa schadenfreude cenderung tidak memanusiakan korban, tidak memiliki motivasi untuk empati terhadap pemikiran korban, dan ini mirip dengan psikopat,” tulis hasil studi yang dipublikasikan di Science Direct ini.

Meski demikian, pemikiran senang di atas penderitaan orang lain ini muncul tanpa dikontrol, tidak berbahaya jika tidak dikatakan atau dipos secara online dengan lantang, serta manusiawi. Tentu dalam kasus tertentu perasaan ini selalu muncul dan makin kuat dan hingga berbuntut aksi yang merugikan orang lain, barulah schadenfreude merupakan masalah besar. (merdeka)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0