in

Kisah Mbah Kartasun, Kakek Penjual Meja Kayu di Purwokerto yang Berjalan Kaki dan Memanggul Sendiri Barang Dagangannya

Mbah Kartasun, kakek berusia 90 tahun ini masih kuat berjalan kaki dan memanggul meja kayu dan kandang ayam dagangannya.

Ia juga sering menjual meja kayu dan kandang ayam miliknya di depan kantor Bank Mandiri Purwokerto di Jalan Jenderal Soedirman.

Sambil menunggu pembeli, Mbah Kartasun biasanya hanya duduk di pinggir jalan sambil memandang lalu lalang kendaraan yang lewat.

Mbah Kartasun ini sudah berjualan meja kayu dan kandang ayam sejak tahun 1954. Kakek asal Desa Kemutuk Kidul RT. 001 RW. 003, Kec. Baturraden, Kab. Banyumas ini juga merupakan pengagum sosok Bung Karno yang dianggap sebagai sosok yang sangat sentral perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Bapak Soekarno itu begitu penting, tanpa beliau kita tidak dapat menikmati kemerdekaan seperti ini sekarang,” ujarnya.

Ia terlihat selalu membawa bungkusan putih berisi buku Undang-Undang Dasar 1945. Melawan terik matahari, Mbah Kartasun tetap terus berjalan kaki sambil memanggul meja kayu untuk mencari pembeli.

Jarak dari rumah hingga ke tempat biasa Mbah Kartasun berjualan sekitar 10 kilometer, mulai pukul 08.00, Mbah Kartasun sudah mulai bersiap untuk menjual dagangannya.

Dari rumahnya, dia menggunakan angkutan untuk membawa meja kayu yang diletakkan di atas atap angkutan sampai ke depan RS. Wijayakusuma Purwokerto.

Sesampainya di sana, Mbah Kartasun langsung memikul sendiri meja kayu dan kandang ayam yang akan dijual dengan berjalan kaki ke tempat biasa ia berjualan.

Dulu, ketika usianya masih cukup muda, Mbah Kartasun mengatakan bahwa dirinya bahkan mampu berjualan hingga Sokaraja dan Purbalingga.

Namun di usaianya yang sekarang, Mbah Kartasun hanya memanfaatkan ramainya kota Purwokerto dan membuka lapak dagangannya di depan kantor Bank Mandiri Purwokerto.

Dengan kondisi yang sudah renta dan menggunakan pakaian sederhana, tak jarang Mbah Kartasun sering dikira sebagai pengemis.

“Iya memang terkadang orang lewat banyak memberikan uang, mungkin dikira pengemis padahal bukan, saya jualan meja kayu. Tetapi kalau ada yang ikhlas iya saya terima saja,” ungkapnya.

Sangat Mencintai Istri dan Ketiga Anaknya

Dibalik semangatnya untuk menyambung hidup dengan cara berjualan meja dan kandang ayam, ternyata ada ironi yang menyelimuti kehidupan Mbah Kartasun.

Di usia senja, Mbah Kartasun kini hanya hidup sebatang kara. Istri dan ketiga anaknya telah meninggal dunia. Anak pertama Mbah Kartasun meninggal saat usianya masih 3 tahun, kemudian anak keduanya meninggal di umur 2 tahun.

Sementara anak terakhirnya yang diharapkan bisa menjadi penopang di sisa usianya itu meninggal pada tahun 2016.

Sedangkan sang istri meninggal pada tahun 2000 silam karena sakit. Mbah Kartasun mengungkapkan bahwa dirinya merasa sedih karena ditinggal orang-orang yang dicintainya.

Bentuk dari kecintaan terhadap keluarganya tersebut, dia tunjukan dengan menulis tanggal-tanggal kematian anak dan istrinya dalam sebuah buku catatan kecil.

Dia mengaku sengaja melakukannya agar tidak lupa dan tetap mengingat kematian anak-anak dan istrinya.

“Saya tulis supaya tidak lupa, setiap tanggal dan peringatannya. Terkadang saya hitung peringatan hari ke 100, 1000. Memang tidak ada acara selamatan atau kepungan, tetapi yang penting memanjatkan doa,” ucapnya.

Meski menjalani hidup yang berat karena ditinggal seluruh anggota keluarganya, Mbah Kartasun tetap semangat menjalani kehidupannya.

Ia masih berjualan dengan jalan yang halal untuk bisa terus menyambung hidup.

Meja kayu yang biasa dijual Mbah Kartasun harganya sekitar Rp. 150.000, sedangkan kandang ayam dijualnya dengan harga Rp. 80.000 saja.

Kisah hidup Mbah Kartasun ini semoga bisa menjadi inspirasi untuk kita semua, bahwa seberat apapun hidup yang kita jalani sekarang, kita tidak boleh menyerah dengan keadaan yang ada.

Tetapi kita harus selalu semangat serta berjuang untuk menghadapinya dengan kemampuan yang kita miliki. Selain itu, bersyukur adalah salah satu cara agar kita tidak terus mengeluh dan selalu merasa kurang dengan yang kita miliki sekarang.

Ditulis oleh Ahlun

Lagi ngejalanin hidup yang 'gini-gini aja'. Hehe

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0